Musim Pahit Bagi Juan Mata

Juan Mata

 

Musim 2018/2019 tidak berjalan dengan baik buat Manchester United. Kekalahan di pekan pamungkas Premier League makin membuat Juan Mata merasa sangat kecewa.

MU menuntaskan musim dengan kekalahan. Menghadapi Cardiff City di Old Trafford pada hari Minggu (12/5/2019) malam WIB, The Red Devils takluk dengan skor 0-2.

Dengan kekalahan itu, MU berarti sudah tidak bisa meraih kemenangan di dalam 5 laga terakhirnya di Premier League. MU kalah sebanyak 3 kali dan seri 2 kali.

‘Setan Merah’ juga dipastikan gagal ke Liga Champions musim depan karena cuma finis di posisi 6 klasemen dengan nilai 66 poin. Tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer tertinggal sampai 32 poin dari Manchester City yang menjadi juara.

MU tidak hanya gagal di Premier League. Di semua ajang yang mereka ikuti di musim ini, MU tidak melangkah lebih jauh dari babak perempatfinal.

Mata pun menyesalkan kekalahan MU pada pekan terakhir Premier League. Secara total, musim ini meninggalkan rasa pahit dan sakit untuk gelandang asal Spanyol itu.

“Kekalahan di pertandingan terakhir Premier League merupakan cara terburuk untuk menuntaskan musim yang tak berjalan bagus untuk siapapun yang merupakan bagian dari keluarga Manchester United” ucap Mata.

“Ada sejumlah momen dan pertandingan yang bagus, yang mesti diingat, akan tetapi rasanya di akhir sangat pahit. Tak ada dari kami yang puas dengan level penampilan secara umum. Saat kami menang, kami melakukannya bersama-sama dan saat kami kalah kami juga berbagi tanggung jawab” lanjut gelandang berusia 31 tahun itu.

“Sekarang adalah waktunya untuk menganalisis, merenung dan memperbaiki diri. Klub ini semestinya berada di situasi yang berbeda, tak ada keraguan mengenai itu” sambung Mata.

“Walaupun tak sehat kalau hanya fokus ke hal yang negatif, namun tidak mungkin juga menyangkal hal nyata yang terlihat. Kami mesti realistis dan musim ini sangat mengecewakan. Ini amat menyakitkan dan perasaan itu akan terasa di sepanjang musim panas ini. Anda pantas mendapatkan lebih dari yang diraih. Itulah kenyataannya” tutup gelandang kelahiran Burgos, 28 April 1988 itu.