Dongeng Ajax Yang Berakhir Tidak Bahagia Di Liga Champions

Liga Champions

Ajax benar-benar telah mengukir satu perjalanan bak dongeng di Liga Champions musim ini dengan sampai semi final. Tetapi ini dongeng yang selesai tidak bahagia.

Ajax mengawali Liga Champions jelas bukan jadi favorit. Team garapan Erik ten Hag itu tidak dijagokan meluncur jauh, dengan kehadiran tim-tim seperti Real Madrid, Juventus, Manchester City, Atletico Madrid, Paris Saint-Germain, atau Bayern Munich.

Tetapi nasib mengatakan lain, malah tidak satupun dari enam team top itu dapat meluncur lebih jauh dari Ajax. Atletico, PSG, Madrid, serta Bayern roboh di set 16 besar. Sesaat Juventus serta City tersisih di perempatfinal.

Ajax memperoleh pujian besar sebab turun tangan sendiri mendepak dua dari daftar team top itu: Madrid serta Juventus. Madrid didepak dengan agregat 5-3, melalui tampilan cemerlang pada partai tandang di Santiago Bernabeu dimana mereka menang 4-1.

Kegemilangan sama diulang waktu menantang Juventus di perempatfinal. Selesai sama 1-1 di Johan Cruyff Ajang, De Godenzonen menuai kemenangan 2-1 di Allianz Fase pada putaran kedua.

Semenjak di babak group, Ajax sudah menjanjikan. Segrup dengan Bayern, Benfica, serta AEK Athens, Frenkie de Jong dkk tidak terkalahkan di enam laga.

Mereka menuai tiga kemenangan serta 3x sama, menghimpun 12 point yang cuma kalah dari Bayern dengan 14 point. Ajax tidak inferior di depan Bayern yang diatas kertas punyai materi lebih baik serta memiliki pengalaman.

De Jong memandang perjalanan teamnya memang mengagumkan, tetapi tidak semua dongeng selesai bahagia. Di semi final, Ajax tersisih selesai kalah 2-3 dari Tottenham Hotspur di kandang.

Semakin menyakitkan sebab gol kemenangan Tottenham terbentuk pada menit ke-95. Ajax kalah gol tandang walau agregat sama kuat 3-3.

“Saya pikir kami wajar untuk sampai final, lihat langkah kami main selama kompetisi dan di set pertama malam hari ini. Meskipun begitu, Spurs memperoleh hak mereka untuk lolos melalui perform set ke-2 itu,” papar De Jong.

“Saya pikir kebanyakan orang nikmati apa yang kami kerjakan di Liga Champions musim ini, ini seperti satu dongeng. Sayangnya ini dongeng dengan akhir tidak bahagia. Begitu menyedihkan melepas final di beberapa detik akhir,” tambah pemain gelandang ini seperti dikutip situs sah UEFA.